Selasa, 18 Februari 2014

Sejarah Tangerang

Tangerang

Kita Tinggal Di Tangerang, tapi apakah kita tahu asal muasal Tangerang?
kita baca yuk!! Biar nambah pengetahuan kita
images (3)
Menurut Tradisi lisan yang menjadi pengetahuan masyarakat Tangerang, Nama daerahTangerang dulu dikenal dengan nama Tanggeran yang berasal dari Bahasa Sunda yaitu Tengger dan Perang. Kata ‘Tengger’ dalam bahasa sunda yaitu berarti ‘Tanda yaitu berupa tugu tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC, di kisaran pertengahan adad ke 17. Daerah yang dimaksud ada di sebelah barat sungai Cisadane (Kampung Grendeng atau tepatnya di ujung Jalan Otto Iskandar Dinata sekarang). Tugu dibangun oleh Pangerang Soegiri, salah satu putra dari Sultan Ageng Tirtayasa. Pada Tuggu tersebut tertulis prasasti dalam bahasa Arab gundul dengan dialek Banten, yang isinya adalah
images (1)
Bismillah Peget Ingkang Gusti
Diningsun Juput Parenah Kala Sabtu
Ping Gasal Sapar Tahun Wau
Rengsena Perang Nelek Nangeran
Bungas Wetan Cipamugas Kilen Cidurian
Sakebeh Angraksa Sitingsung Parahyang-Titi
Jika dalam bahasa Indonesia Yaitu :
Dengan Nama Allah Yang Tetap Maha Kuasa
Dari Kami Mengambil Kesempatan Pada Hari Sabtu
Tanggal 5 Sapar Tahun Wau
Sesudah Perang Kita Memancangkan Tugu
Untuk Mempertahankan Batas Timur Cipamugas (Cisadane) dan Barat yaitu Cidurian
Semua Menjaga Kaum Parahyang
Persita
Sedangkan istilah “perang” menunjuk pengertian bahwa daerah tersebut dalam perjalanan sejarah menjadi medan perang antara Kasultanan Banten dengan tentara VOC. Hal ini makin dibuktikan dengan adanya keberadaan benteng pertahanan kasultanan Banten di sebelah barat Cisadane dan benteng pertahanan VOC di sebelah Timur Cisadane. Keberadaan benteng tersebut juga menjadi dasar bagi sebutan daerah sekitarnya (Tangerang) sebagai daerah Beteng. Hingga masa pemerintahan kolonial,Tangerang lebih lazim disebut dengan istilah “Beteng”.
images
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sekitar tahun 1652, benteng pertahanan kasultanan Banten didirikan oleh tiga maulana (Yudhanegara, Wangsakara dan Santika) yang diangkat oleh penguasa Banten. Mereka mendirikan pusat pemerintahan kemaulanaan sekaligus menjadi pusat perlawanan terhadap VOC di daerah Tigaraksa. Sebutan Tigaraksa, diambil dari sebutan kehormatan kepada tiga maulana sebagai tiga pimpinan (tiga tiang/pemimpin). Mereka mendapat mandat dari Sultan Agung Tirtoyoso (1651- 1680) melawan VOC yang mencoba menerapkan monopoli dagang yang merugikan Kesultanan Banten. Namun, dalam pertempuran melawan VOC, ketiga maulana tersebut berturut-turut gugur satu persatu.
cileduk-car-pre-ww-ii
Perubahan sebutan Tangeran menjadi Tangerang terjadi pada masa daerah Tangeran mulai dikuasai oleh VOC yaitu sejak ditandatangani perjanjian antara Sultan Haji dan VOC pada tanggal 17 April 1684. Daerah Tangerang seluruhnya masuk kekuasaan Belanda. Kala itu, tentara Belanda tidak hanya terdiri dari bangsa asli Belanda (bule) tetapi juga merekrut warga pribumi di antaranya dari Madura dan Makasar yang di antaranya ditempatkan di sekitar beteng. Tentara kompeni yang berasal dari Makasar tidak mengenal huruf mati, dan terbiasa menyebut “Tangeran” dengan “Tangerang”. Kesalahan ejaan dan dialek inilah yang diwariskan hingga kini.
minim-penerangan-kantor-bupati-tangerang-jadi-tempat-mesum
Sebutan “Tangerang” menjadi resmi pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Pemerintah Jepang melakukan pemindahan pusat pemerintahan Jakarta (Jakarta Ken) ke Tangerang yang dipimpin oleh Kentyo M Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosiekenseperti termuat dalam Po No. 34/2604. Terkait pemindahan Jakarta Ken Yaskusyo ke Tangerang tersebut, Panitia Hari Jadi Kabupaten Tangerang kemudian menetapkan tanggal tersebut sebagai hari lahir pemerintahan Tangerang yaitu pada tanggal 27 Desember 1943. Selanjutnya penetapan ini dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober 1984.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar